Berita Terbaru – Kantor Kejaksaan Agung telah mengizinkan berbagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan mereka untuk melakukan telekomunikasi sepenuhnya mengharapkan penyebaran infeksi mahkota. Pada saat itu jika apa yang akan dilakukan Kejaksaan jika ada perwakilan yang harus bekerja di rumah, namun berada di tengah-tengah liburan?

Ini Tindakan Yang Akan Di Ambil Jaksa Agung Bila ASN Yang Diperbolehkan Kerja Di Rumah Justru Berlibur

“Jika kebetulan ketika administrator langsung dikerjakan, manajer langsung tidak ada di rumah atau lebih sering digunakan untuk tur atau tamasya, pada saat itu individu yang berlaku diminta untuk kembali bekerja di kantor jelas,” kata Kepala Pusat Informasi Umum Kejaksaan, Hari Setiyono, melalui artikulasi yang disusun pada hari Senin. (3/16/2020).

Perwakilan yang bekerja di rumah diizinkan pergi dalam kondisi yang mengerikan, misalnya memenuhi kebutuhan makanan atau kesejahteraan. Mereka juga perlu melaporkannya ke bos masing-masing. Berbagai otoritas dasar yang masih harus pergi ke tempat kerja adalah pejabat eselon I, II, dan III di dalam Kantor Kejaksaan Agung.

Otoritas eselon I menggabungkan perwakilan pengacara umum, pengacara muda yang berjiwa muda, dan pemimpin lembaga instruksi dan persiapan. Otoritas eselon II, misalnya, auditor, eksekutif, bos agensi, dan kepala fokus di Kejaksaan. Pada saat itu, pejabat eselon II, III, dan IV di tingkat Kejaksaan Tinggi. Akhirnya, eselon III, IV, dan V berwenang di Kantor Kejaksaan Negeri.

Pedoman tersebut diungkapkan dalam Surat Edaran 2 tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Karyawan dalam Pencegahan Penyakit Coronavirus (Covid-19) yang Menyebar di Kantor Kejaksaan Agung Indonesia.

Putaran ini sah dari 17 Maret hingga 31 Maret 2020. Hari menegaskan bahwa para pekerja dalam hal apa pun akan mendapatkan keuntungan mereka. “Tunjangan presentasi dan hak kepegawaian lainnya belum terpenuhi sebagaimana mestinya,” katanya. Untuk mencegah penyebaran infeksi, Kejaksaan juga melarang latihan termasuk mayoritas untuk jangka waktu yang tidak meyakinkan.

Jumlah pasien yang dikonfirmasi mengalami infeksi mahkota atau Covid-19 diperluas oleh 17 orang. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto dalam penjelasan pers kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/3/2020).

“Ada peningkatan jumlah pasien di atas 17 orang (jelas mendapat infeksi mahkota) sehingga saat ini ada 134 pasien yang terkontaminasi,” kata Achmad Yurianto.