Berita Terbaru – Facebook sudah setuju untuk bayar denda 550 juta dollar AS atau seputar Rp 7,5 miliar atas pemakaian tehnologi face recognition di feature tag photo dalam servicenya. Denda ini adalah ketentuan hakim federal pada pengadilan atas tuntutan pemakai Facebook. Proses pengadilan ini sendiri sudah berjalan semenjak tahun 2015. Pengadilan ini disebutkan adalah masalah penyimpangan data paling besar di riwayat AS, dalam soal lamanya proses peradilan serta jumlahnya dendanya.

Facebook Harus Membayar Denda Ratusan Juta Gara Gara Fasilitas Tag ini

Facebook dipandang bersalah sebab sudah memindai serta mengetahui muka pemakai lewat feature Tag Suggestion. Feature ini aktif dengan automatis, tanpa ada kesepakatan serta sepengetahuan pemilik muka. Awalnya, sekumpulan pemakai dari Illionis, AS ajukan tuntutan atas tehnologi pengenal muka di Facebook sebab feature itu dipandang sudah melanggar undang-undang perlindungan data biometrik.

Facebook dipandang dapat kumpulkan data biometrik lewat feature pengenal muka itu. Data biometrik sifatnya benar-benar privacy sebab tersangkut info sidik jari, sampel darah, serta geometri muka. Meskipun begitu, tidak ada info feature pengenal muka Facebook ini dapat ambil data biometrik pemakai. Seperti dikumpulkan KompasTekno dari Bloomberg, Jumat (7/2/2020), Facebook sempat berupaya hentikan proses tuntutan ini pada tahun 2018.

Tetapi, keinginan Facebook ini tidak diterima hakim federal. Facebook pada akhirnya bersedia penuhi tuntutan itu serta akan bayar beberapa uang sesuai dengan ketetapan pengadilan untuk beberapa penuntut serta faksi berkaitan. Jubir Facebook menjelaskan, ketetapan untuk terima tuntutan untuk kebutuhan pemakai serta komune Facebook.

Dipakai semenjak 2010
Facebook mulai memakai tehnologi face recognition semenjak 2010. Waktu itu, feature itu langsung bisa dengan automatis aktif tanpa ada konfirmasi pada pemakai Facebook.

Tidak itu saja, feature ini menggerakkan pemakai untuk meletakkan sinyal (tag) di wajah pemakai lain dalam suatu photo yang diupload di Facebook. Selanjutnya pada Desember 2017, feature dirubah Facebook. Pemakai bisa dengan gampang aktifkan atau menonaktifkannya. Setelah itu pada 2019, Facebook membuatnya mempunyai feature opt-in jadi sisi dari feature baru Facebook menjadi lebih konsentrasi pada privacy pemakai.

Face recognition banyak digunakan pemerintah
Sebetulnya, feature pengenal muka yang membuat Facebook “diberi hukuman” ini sudah dipakai polisi di ruang umum untuk kepentingan pengawasan.

Tetapi beberapa kota di AS sudah melarang pemakaiannya. Pada Januari 2020, Uni Eropa menjelaskan sedang memperhitungkan untuk hentikan pemakaian tehnologi itu di ruang umum supaya tidak disalahgunakan. Selain itu, pemerintah China sudah mulai mengeluarkan pengenalan muka di apotek di Shanghai untuk mengetahui beberapa orang yang beli obat-obatan khusus. Disamping itu, hal tersebut dikerjakan jadi salah satunya langkah untuk menindak pemakaian beberapa bahan khusus untuk obat-obatan terlarang.