Berita Terbaru – Lingkungan persahabatan dapat punya pengaruh besar pada keadaan emosi anak. Ditambah lagi bila dia punya rekan yang menjadi toksin, seringkali mengakibatkan depresi serta sedih. Perkembangan tiba-tiba pada keadaan psikologi kemungkinan tunjukkan tanda-tanda toksik dalam persahabatannya. Seorang anak pernah diketemukan menangis histeris di kamarnya, menarik diri dari keluarga, serta menampik menjelaskan apa saja sebab takut orangtuanya tidak akan pahami. Tetapi, saat anak itu diterima kembali oleh temannya yang toksik, dia kembali bahagia. Ini terus berlangsung dengan berulang-ulang sampai anak nampaknya tidak dapat keluar dari persahabatan itu.

Pentingnnya Menolong Anak Keluar Dari persahabatan Yang Mengandung Toksik

Segala hal dalam kehidupan anak berputar-putar di seputar menyenangkan serta penuhi tuntutan dari rekan yang toksik. Seorang toxic friend punya karakter narsisme yang kuat, egois serta manipulatif. Mereka pakar dalam membuat citra publik yang positif di muka orang-tua, guru, serta pelatih. Tetapi, dibalik itu sifatnya sangat tidak sama. Mereka kerja keras untuk memperoleh keyakinan anak lain hingga saat mereka diakui, rekan yang toksin ini mulai menjelaskan serta lakukan beberapa hal yang menyakitkan. Contohnya menjauhi temannya sebab satu momen lalu mengunggahnya di sosial media untuk membuat malu.

Contoh lain, dengan tidak adil menuduh rekan lakukan suatu hal yang tidak dilakukan. Ini seringkali dikatakan sebagai prediksi, yakni proses pertahanan diri yang sebetulnya tidak beresiko. Tetapi, langkah ini seringkali dipakai dengan ekstrim oleh individu yang toksik. Dua perumpamaan ini seringkali dipakai untuk memprovokasi anak. Saat dia menanyakan kenapa dia dijauhi atau bela diri dari dakwaan yang tidak adil, rekan yang toksik itu memakai dua langkah untuk menantang. Yang pertama, menuduh anak itu terlalu berlebih atau edan. Atau mengulas anak itu pada rekan-rekan lainnya hingga membuat pemahaman jika anak itu jadi “orang jahat.”

Bila tanda-tanda serta skema ini telah mulai kelihatan, penting buat orang-tua untuk menolong anak yang menjadi korban. Tuntut anak menjauhi persahabatan itu tidak selamanya efisien sebab dia kemungkinan sudah diakali oleh rekan itu hingga malah memihaknya. Dari pemikiran seorang anak, bersahabat dengan rekan yang toksik tidak jelek dibanding tidak punya rekan. Diluar itu, sejumlah besar individu yang punya jalinan beracun tidak bisa mengetahui skema toksisitas saat mereka terjebak dalam jalinan itu.

Dekati orang-tua dari anak yang toksik atau menyertakan petinggi sekolah dapat jadi bumerang untuk diri kita. Anak yang toksik punya cenderung narsis sebab mereka punya jalinan yang kurang baik orangtuanya. Mereka sering mempersalahkan faksi lain, hingga orang-tua dari anak yang toksik ini akan berlaga dengan drama serta turut mempersalahkan anak itu. Erin Leonard, Ph.D., seorang psikoterapis yang konsentrasi pada jalinan serta pengasuhan anak memiliki pendapat, manfaatkan pendekatan empatik serta arif ialah langkah yang paling efisien untuk orangtua dalam menolong anak yang punya rekan toksik. Berikut enam tehnik yang bisa orang-tua dalami untuk menolong anak bila punya rekan yang toksik.

Memberi empati
Orang-tua harus jadi pendengar yang baik untuk anak, dengarkan dengan hati yang terbuka. Jangan memberitahu anak apa yang perlu dikerjakan. Tetapi, sebaliknya berempati dengan yang anak rasakan. Bila anak itu membuat pengakuan seperti, “Saya bukan orang yang baik.” atau “Saya tidak patut ada di sini.”

Karena itu, orang-tua bisa tunjukkan empati dengan memberikan tanggapan, seperti “Sakit rasa-rasanya merasakan malu serta kurang sebab hal tersebut. Mama atau papah pahami. Saat saya seusiamu rasakan semacam itu juga. ” Berempati dengan perasaan anak membuat mereka merasakan dipahami serta tersambung dengan orangtuanya. Ini sangat mungkin anak jadi tidak merasakan sendirian dalam hadapi kesedihannya.

Pertanyakan terbuka
Sesudah tunjukkan empati, ajak sang anak untuk diskusi lewat pertanyaan, seperti “Apa yang membuat kamu menjelaskan itu, sayang?” “Apa yang membuat kamu merasakan semacam itu?” Saat anak mulai terbuka, orang-tua tetap harus memberi rasa empati, seperti menjelaskan, “Kamu memiliki hak merasakan sedih. Mama juga tentu demikian. Yang kamu alami bukan suatu hal yang dapat dibiarkan.”

Memberikan keyakinan anak
Berikan pada anak Anda tidak pergi ke sekolah atau hadapi orang-tua lain tanpa ada izin anak. Menjaga keyakinan dalam jalinan itu penting. Keyakinan anak sudah berkali-kali dilanggar oleh rekan yang toksik hingga punya jalinan atas fundamen keyakinan sangat penting.