Berita Terbaru – Tanggal 2 Oktober 2009 jadi peristiwa penting buat warisan budaya Indonesia, terutamanya batik. Pada tanggal itu, batik disadari oleh UNESCO jadi warisan budaya tidak benda Indonesia, sebab nilai-nilai filosofi serta bagian humanis yang terdapat di dalamnya. Pemerintah juga keluarkan Ketetapan Presiden Nomer 33 Tahun 2009 yang memutuskan tanggal 2 Oktober jadi “Hari Batik Nasional”. Kata batik datang dari bahasa jawa, yakni amba serta titik. Amba berarti lebar serta titik bermakna skema beberapa titik.

Mengulik Sedikit Kisah Dibalik Hari Batik Dan Juga Para Penggunannya Di Manca Negara

Batik bukan sebatas warisan nenek moyang Indonesia. Ada nilai estetika tinggi serta kearifan lokal di dalamnya. Di situs UNESCO disebut, batik adalah jati diri budaya warga Indonesia. Lewat arti simbolis warna serta bentuknya, batik mengekspresikan kreatifitas serta spiritualitas di dalamnya. Semenjak disadari oleh UNESCO, keberadaan baik juga semakin diketahui dunia. Serta, tokoh sekelas Nelson Mandela juga sering kelihatan kenakan batik dalam komunitas dunia.

Nelson Mandela serta Batik Nelson Mandela diketahui dunia dengan style bajunya yang ciri khas, batik. Kesayangan Mandela pada batik Indonesia itu bermula saat terima hadiah batik dalam kunjungannya ke Indonesia akhir Oktober 1990 jadi wakil ketua organisasi Kongres Nasional Afrika.

Mandela kenakan batik itu saat hadir kembali pada Indonesia tahun 1997 jadi Presiden Afrika Selatan. Saat diangkat jadi Menteri Perdagangan tahun 1999, Jusuf Kalla minta desainer populer di Indonesia, Iwan Tirta, untuk membuat batik spesial untuk Mandela. Semenjak Mandela menggunakan batik di beberapa acara kenegaraan, warga Afrika juga menjuluki baju batik dengan panggilan “baju Madiba” sebab rakyat Afrika Selatan menyebut Mandela dengan nama Madiba.

Nama ini diambil dari nama klan Thembu, yang disebut asal mula Mandela, serta adalah sinyal rasa sayang serta hormat untuk Mandela. Mulai sejak itu Mandela sering kenakan batik ke beberapa acara sah dunia, terhitung ke Sidang Umum PBB maupun Piala Dunia. Anehnya, semenjak Mandela berkuasa di tahun 1900an sampai 2000, tidak ada satu juga orang Afrika Selatan yang menggunakan batik.

Tidak hanya harga yang mahal, batik telah dipandang jadi keunikan Mandela. Mereka berpikir menggunakan batik akan dipandang menandingi Mandela. Tetapi, sesudah Mandela tidak aktif di pemerintahan, beberapa orang Afrika Selatan mulai menggunakannya untuk acara tersendiri.