Berita Terbaru – Imran Khan selaku perdana Menteri Pakistan bersama dengan anggota delegasinya sangat terpaksa tunda jadwal pulangnnya mereka setelah hadiri Sidang Umum PBB. Hal itu karena pesawat yang akan bawa mereka kembali pada Islamabad tiba-tiba alami masalah tehnis beberapa saat sesudah lepas landas. Pesawat yang pergi dari Lapangan terbang Internasional JF Kennedy, pada Jumat (27/9/2019), itu sangat terpaksa memutar balik serta mendarat darurat kembali di New York.

Ada Masalah Dengan Pesawat Yang Dinaikinnya Rombongan Delegasi Pakistan Tak Jadi Pulang

“Perdana mentri sudah lepas landas dari Lapangan terbang Internasional JFK di New York, pada Jumat malam dengan memakai jet spesial yang disediakan oleh pemerintah Arab Saudi.” “Tapi pesawat itu selanjutnya memutar kembali ke New York beberapa saat selanjutnya sebab ada permasalahan yang perlu diperbaiki,” catat laporan media massa Pakistan, The News Internasional diambil Hindustan Times.

Duta besar Pakistan untuk PBB, Maleeha Lodhi, yang sudah sempat mengantarkan keberangkatan perdana mentri, bergegas kembali pada lapangan terbang sesudah mendapatkan berita bila pesawat itu kembali arah serta kembali pada New York.

Lodhi selanjutnya mengantar delegasi Pakistan kembali pada hotel Roosevelt, dimana perdana mentri sudah bermalam sepanjang tujuh hari untuk ikuti jadwal Sidang Umum PBB. Khan, yang pimpin delegasi Pakistan dalam session ke-74 Majelis Umum PBB, sudah sempat menanti di lapangan terbang sesaat waktu waktu teknisi berupaya melakukan perbaikan kehancuran pada pesawatnya.

Tetapi didapati selanjutnya jika perbaikan memerlukan lebih banyaknya waktu, hingga tidak sangat mungkin buat perdana mentri serta anggota delegasi Pakistan untuk kembali pada Islamabad di hari itu. Rombongan juga putuskan kembali pada hotel sampai Sabtu (28/9/2019) sebelum putuskan apa masih menanti perbaikan atau pilih memakai penerbangan komersial buat kembali pada Pakistan.

Sepanjang hadiri rangkaian jadwal Majelis Umum PBB dalam sidang umum, Khan sempat juga menjumpai beberapa pemimpin negara dengan bilateral, terhitung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Khan mengangkat permasalahan perselisihan Kashmir dengan India. Ia serta “meneror” akan efek berlangsungnya perang nuklir di antara ke-2 negara. “Bila perang konvensional berlangsung di antara dua negara, apapun dapat berlangsung,” tutur Khan. “Serta waktu satu negara memiliki kekuatan nuklir berusaha sampai akhir, karenanya akan berefek jauh di luar tepian,” imbuhnya. Pengakuan Khan itu tidak pelak memetik masukan dari peserta Sidang Umum PBB.

Perdana mentri Pakistan itu sudah pimpin kampanye di penjuru dunia untuk tingkatkan kesadaran akan permasalahan Kashmir, semenjak pencabutan status semi-otonomi lokasi itu yang sudah ditata dalam konstitusi India semenjak berpuluh-puluh tahun kemarin. Sesaat pada gilirannya, Perdana Menteri India Narendra Modi, seperti yang telah direncanakan, tidak mengatakan masalah perselisihan Kashmir atau Pakistan dalam pidatonya. Modi cuma mengulas mengenai utamanya buat dunia untuk menyatu menantang terorisme, suatu hal yang dengan terbersit diarahkannya pada Pakistan, seperti yang tetap dituduhkan India sudah mendapatkan suport dari Islamabad.