Berita Terbaru – Trend revenge porn makin ramai berlangsung. Sederhananya, ini adalah aksi penebaran content pornografi satu orang untuk maksud balas dendam. Satu diantara perkara revenge porn belakangan ini berlangsung di kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dikabarkan, seseorang pria berinisial AIS (34) disangka menebarkan video adegan sex dianya dengan seseorang wanita berinisial YS (34) sebab tidak terima jalinan gelapnya ditetapkan dengan sepihak. Pendapat ini muncul hanya karena AIS yang merekam serta mempunyai video itu. YS selanjutnya memberikan laporan insiden ini ke Polres Sumedang.

Melihat Masalah Revenge Porn Dari Kaca Mata Psikologi

Praktisi psikologi, Nuzulia Rahma Tristinarum menjelaskan jika satu orang dapat atau tega lakukan revenge porn sebab dengan psikologis rasa sakit hati, cedera hati, kemarahan yang terpendam, serta dendam memang dapat membuahkan tingkah laku tersendiri. Umumnya pelaku akan berpikir untuk melukai orang yang dipandang jadi pemicu kemarahan itu. “Triknya bisa macam macam, umumnya yang dicari ialah kekurangan korban,” kata Nuzulia waktu dihubungi Wartawan, Rabu (11/9/2019). Dalam masalah revenge porn, photo atau video tersebutlah yang dipandang seperti kelemahan korban hingga aktor akan memakainya untuk maksud balas dendam.

Revenge porn menguasai 33 % dari 97 masalah keseluruhan kekerasan pada wanita di dunia online yang diadukan ke Komnas Wanita. Wanita memang lebih rawan jadi korban revenge porn. Menurut Nuzulia, korban revenge porn dengan psikologis beresiko alami shock, trauma, bahkan juga stres. Nuzulia memberi pesan buat korban revenge porn untuk cari suport atau dukungan sistem. Korban dapat memberikan laporan kasusnya pada pihak berwajib.”Bila dengan psikis korban masih merasakan terusik. Merasakan tidak aman, terancam, takut, karena itu dapat cari pertolongan pakar seperti psikolog,” pesannya.

Saat wawancara terpisah, psikolog Gracia Ivonika dari Personal Growth menjelaskan jika semenjak awal merajut jalinan, tiap pasangan butuh sama-sama terbuka untuk mengomunikasikan beberapa batasan dalam jalinan mereka. Terhitung dalam soal seksual. Saat pasangan minta lakukan hal tersebut, karena itu dibutuhkan ketegasan serta kestabilan dalam mengemukakan penampikan itu dibarengi dengan keterangan. “Jika pasangan masih tunjukkan sinyal pemaksaan atau membuat korban mulai merasakan tidak nyaman, korban memiliki hak untuk pastikan keamanan mereka. Dia dapat jaga jarak terlebih dulu dengan pasangan, bercerita pada seorang yang bisa diakui, atau cari perlindungan hukum jika memang dibutuhkan,” ujarnya.