Berita Terbaru – Jadi salah satu pemakai sosial media kita barangkali sempat memberi komentar lekuk badan atau kecantikan dari satu orang. Apa lagi dalam setiap sosial media ada kolom komentar yang seolah olah menjadi hal yang wajar jika kita mengomentari bentuk tubuh orang di sosial media. Sifat itu mengomentari itu dapat positif atau negatif. Sayangnya, beberapa dari pemakai sosmed condong nyinyir dalam memberi komentar tampilan orang. Nah, menurut Psikolog Klinis Nuran Abdat, bila kita memberikan komentar yang mengkritik, menghina, serta mengintimidasi dalam ranah kecantikan, entahlah muka atau bodi shaming, karena itu hal itu masuk ke kelompok Beauty Bullying.

Mengulik dan Mengenal Apa Sebenarnnya Beauty Bullying

“Tindakan ini rata-rata dikerjakan oleh wanita pada wanita. Walau sebenarnya harusnya kan saat ini zamannya woman dukungan woman atau girls dukungan girls, tetapi kok nyatanya kita malah merusak keduanya,” kata Nuran dalam kampanye ide #STOPBeautyBullying bersama dengan Lux di Jakarta (29/7/2019). Dampak-dampak yang dihadapi oleh korban Beauty Bullying benar-benar bermacam, seperti keyakinan diri yang alami penurunan, stres, atau menghindari diri dari lingkungan, bahkan juga parahnya dapat sampai ada kemauan untuk bunuh diri.

Oleh karenanya Nuran bersama dengan Lux ajak tiap orang untuk menantang serta hentikan Beauty Bullying. Bagaimana triknya? Yang pertama, ketahui diri kita, sebab tiap ciri-ciri orang berlainan. Kita disarankan tidak terus-terusan memperbandingkan diri dengan orang. Lalu ke-2 kerjakan informing, berbicaralah pada diri kita, untuk mengerti jika ketidaksamaan itu lumrah, jika cantik itu berlainan di tiap pemikiran orang. Ini mempunyai tujuan supaya kita tidak selamanya memandang kita masih kurang, sebab hal tersebut relatif. Lalu yang ke-3, kita sebaiknya perduli dengan diri kita atau menyukai diri kita, contohnya dengan lakukan perawatan badan, ubah model dalam kenakan pakaian, berdandan, atau membuat kita bahagia.

Lalu yang paling akhir kita juga harus selektif dalam berkawan. Lebih baik pilih lingkungan atau komune yang positif, yang memberikan kita semangat serta nilai-nilai yang baik, dibanding berkawan dengan mereka yang penuh kedengkian serta iri hati. “Kita tidak butuh bersahabat dengan seribu orang di sosmed tapi mereka justru mem-bully atau menjatuhkan kita,” tutur Nuran.